Mencuci Getah dalam Daging
aku mencuci getah dalam dagingku. getah yang meninggalkan bekas pada pakaian putihku. lengket seperti lem sepatumu. sepatu kaca yang sedikit aus. melangkah di lantai keramik yang licin dan bening seperti cermin. lalu kau sejenak menunduk merapikan masa silam yang terlupakan.
berjalan seperti menghitung langkah tanpa mengada-ada.
arloji di sakumu deringnya sampai dalam dagingku. agak bergetar. getahku makin mengental. dan sukar kucuci dengan sikat sekalipun berkawat. tapi sepatu kaca itu menuntunmu berjalan. dan membayangkan seutas tali menghadangmu. lalu masa kanakmu kembali bermain petak-umpat.
hati-hati, rerimbun kebun pisang angker dan banyak pecahan belingnya.
kemudian lihatlah tubuh-tubuh anak kecil dapat terpisah-pisah. lalu terperam. seperti cahaya matahari yang menumpuk dan bewarna merah selai. tidakkah kau menginginkan sore menawan serupa itu. lalu jendela berkaca tembus pandang itu tiba-tiba memisahkan cinta kita. dan getah dalam dagingku semakin merekatkan akar-akarnya.
Parsel Buah
kata-kata tak bisa
mengobati rasa sakitmu
kenangan hanya menghibur sejenak
tak dapat mengubur ngilu sekujurmu
dan perjalananku seperti angin laut
panjang dan meletihkan
kedatanganku serupa kerinduan akar pada hujan
sekeranjang parsel buah kubawakan untukmu
tak terlalu besar dan tak kecil pula
buah-buah segar kemilau rupanya
dengan serpih-serpih pendar bulan
dan kupastikan lapar kau segera menyergap
melihat betapa ranum gugusan bebuahan
gemerlapan bagai kunang-kunang
barangkali lidahmu terasa getir pahit
mencecap daging bebuahan
tapi tak apalah jangan khawatir
sedikit demi sedikit
kau akan kembali melukiskan
bermacam kemungkinan dengan semestinya
atau kau juga ingin mencicipi
seikat buah yang menggantung dalam anganmu
mungkin berserat dan manis rasanya.
SESEORANG YANG DATANG TERLAMBAT
ada baiknya kau datang terlambat. tetapi tak usah kaulepaskan tudung yang menyelimutimu. sebab kau tahu kalimat-kalimatku masih ganjil. kalimat dengan alasan berliku-liku. seperti diselubungi labirin. namun bukan teka-teki. dan hanya isyarat tertentu yang dapat menyerap panas maknanya.
carilah padanan kata yang serupa kalimat-kalimatku supaya kau tak merasa sedang menjelajahi punuk unta.
kudengar suaramu melenguh. ketika aku merapalkan sebaris kalimatku. dan kau menyangka itu seperti nubuat yang mempesona. lalu seketika itu mulutmu terbungkam. dan seluruh kata yang kaulontarkan bertelanjangan. berhamburan kemana-mana. seakan riuhnya membumbung ke langit.
kutipan-kutipan yang kauhapalkan itu tak lain bagian dari kitab-kitab agung yang telah beralih perumpamannya.
Prima Yulia Nugraha. Lahir di Semarang 21 Juli 1988. Saat ini aktif menjadi ketua Kampoeng Seni. Sebuah komunitas yang bergerak pada proses kreatif dan penciptaan karya.Kini dia sebagai Ketua Kampoeng Seni UIN Syahid Jakarta