Koran Sastra

Suara dari Timur :

genre dan tema-tema karya ‘sastra’ jaman VOC1.

Oleh Christina Suprihatin

Pengajar Sastra pada Program Studi Belanda, FIB-UI


Perjalanan panjang

2 April 1595 tiga kapal dagang besar, Mauritius, Hollandia dan Amsterdam, meninggalkan pelabuhan Texel menuju Hindia-Belanda. Sebuah kapal kecil Duyken ikut mengambil bagian dari perjalanan panjang itu. pelayaran ke Timur antara lain dipicu oleh mahalnya harga rempah-rempah di Eropa dan upaya untuk mendapatkannya – dengan harga yang lebih murah – dari tempat penghasilannya. 2

            Pada masa itu dibutuhkan waktu lebih dari setengah tahun untuk menempuh perjalanan dari Negeri Belanda menuju Batavia. Risiko yang menghalang selama berlayar tidak sedikit: badai di lautan, kapal karam karena menabrak karang, atau kapal terjebak di perairan dangkal, pemberontakan para awak kapal, perompakan, penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kurangnya higiene di kapal, dan hal-hal lainnya, menjadikan perjalanan ke timur bukanlah hal yang menyenangkan. Setibanya di Timur penerimaan yang dihadapi juga tidak selalu ‘ramah’ : penduduk pribumi yang asing, ditambah suasana tidak bersahabat yang ditunjukkan oleh dari pesaing dari negara Eropa lainnya. Belum lagi adaptasi terhadap keadaan di negeri tropis yang didatangi, cuaca panas, gaya hidup berbeda, penyakit-penyakit tropis yang tidak dikenal di Eropa. Semua kendala itu harus dihadapi oleh para pelaku pelayaran dengan kapal VOC.

            Besarnya hambatan yang menghadang membuat hanya sedikit saja dari se-jumlah orang yang berangkat dari Eropa, kembali dengan selamat ke tanah air. 3  Dari 240 awak yang pada tahun 1595 berlayar ke Timur, hanya 87 orang sa-ja yang pada tahun 1597 menginjakkan kaki kembali di Negeri Belanda. 4

            Sebagian dari mereka yang selamat dari perjalanan panjang yang penuh bahaya ke negeri penghasil rempah, ada yang memutuskan untuk menetap di Asia. Sebagian dari mereka menjalin hubungan dengan wanita Asia, a.l. karena sedikitnya wanita Eropa yang ada di Hindia-Belanda. J.P. Coen, Gubernur Jen-deral masa itu,  tidak mendapat ijin dari VOC untuk mendatangkan wanita totok Belanda karena bebera-pa alasan. Mahalnya biaya perjalanan, tingginya tuntutan dari wanita Belanda ini kepada para suaminya dapat memicu korupsi, masalah paling besar yang nantinya menjadi salah satu penyebab robohnya VOC. Ditambah pula besarnya keinginan para wanita itu mengajak suaminya kembali ke Belanda. Alasan-alasan tersebut ditengarai menjadi kendala untuk menda-tangkan wanita Belanda ke Hindia-Belanda.

            Tidak berimbangnya jumlah pria Eropa dan wanita berkulit putih di Hindia-Belanda menyuburkan praktik hubungan campur antara pria Eropa dan wanita lokal. bahkan pada saat itu muncul anggapan bahwa wanita Asia lebih mumpuni dibanding wanita Eropa. Wanita Asia menjadikan lelaki Belanda lebih mengenal negeri yang didatangi, para wanita tersebut juga lebih “nrimo” dan tidak banyak menuntut. Keberadaan mereka dianggap dapat meredam gejolak keinginan para lelaki Belanda untuk kembali ke tanah air.

            Keturunan yang hadir dari persinggungan dua budaya itu juga dianggap memiliki data tahan yang lebih kuat terhadap penyakit-penyakit daerah tropis. VOC masih saja dapat memetik keuntungan dari para keturunan itu: yang laki-laki bisa bekerja untuk VOC dan yang perempuan menikah dengan lelaki Belanda yang bekerja untuk VOC. Demikianlah secara perlahan-lahan muncul budaya Mestis, di dalamnya melebur elemen-elemen Barat dan Timur. 5

            Tulisan ini mencoba memberikan sedikit gambaran mengenai beberapa genre dan tema yang diolah dalam karya-karya dari masa VOC dalam Sastra Belanda. Tentu saja makalah ini tidak dapat memuat gambaran yang lengkap, mengingat masa keberadaan VOC di Hindia-Belanda meliputi rentang waktu yang panjang (1602-1799) dan banyaknya tulisan yang dihasilkan dari masa itu. Keter-batasan waktu untuk dalam seminar ini juga memaksa saya untuk melakukan seleksi dalam menyebutkan karya dan tema.

            Karya, nama dan tema yang disebut dalam makalah ini mewakili mereka yang mempublikasikan tulisannya – baik di Belanda maupun Hindia-Belanda mengenai keberadaan VOC di Hindia-Belanda. Karya yang mengkaji wilayah terirori VOC lainnya tidak akan dibicarakan. Seleksi juga dilakukan berdasarkan apresiasi para pegiat dan pemerhati Sastra Hindia-Belanda terhadap karya-karya tertentu yang dirangkum dalam berbagai acuan.

 

Berbagai genre dalam sastra dari masa VOC

Singgungan budaya Barat (Belanda) dengan budaya daerah yang didatangi nantinya dikoloni (Hindia-Belanda dituangkan dalam berbagai karya. Karya-karya ini selanjutnya oleh Rob Nieuwenhuys (1973) dikategorikan sebagai Indisch-Nederlandse Letterkunde, Sastra Hindia-Belanda. Dalam ranah sastra ini dikenal berbagai genre. “Tot de Indisch-Nederlandse letterkunde behoren literaire en niet literaire genres”. Paasman dalam D’haen (2002) menyarikan Nieuwenhuys dan E.M.Beekman yang berpendapat bahwa Sastra Hindia-Belanda berakar dari surat yang dikirimkan ke tanah air’ dan ‘catatan pribadi para pelaku pelayaran ke Timur’. Paasman melihat bahwa ada batasan yang jelas mengenai jenis teks-teks yang dianggap menjadi bagian ranah sastra ini. Yang lebih penting untuk digarisbawahi adalah pernyataannya bahwa karya-karya dalam ranah Sastra Hindia-Belanda pada awalnya mempunyai fungsi komunikasi. 6 Fungsi ini men-jembatani daerah periferi-Hindia-Belanda dan teritori VOC lainnya dan daerah pusat-Negeri Belanda, dan ini dapat dijelaskan dari genre karya yang dihasilkan di masa VOC berpa teks-teks yang termarjinalkan seperti surat-surat, catatan harian, jurnal dan laporan yang ditulis para pegawai pemerintah, sampai puisi-puisi pujian, drama dan cerita-cerita dengan pesan moral mengenai kehidupan di Hindia-Belanda yang ditujukan kepada pembaca di tanah air, 7

            Menyoal jejak VOC dalam sastra8, Zonneveld menjelaskan hanya bebe-rapa genre yang ditemukan. 9 Yang paling dominan ditemukan adalah catatan-ca-tatan perjalanan. Pada mulanya catatan ini berupa jurnal-jurnal zakelijk/resmi, berisi catatan yang ditulis para kapten kapal. Dari catatan yang bersifat resmi selanjutnya berkembang penggambaran perjalanan. Terkadang penggambaran ini tidak lepas dari bumbu ‘elemen fiktif, jadilah cerita-cerita perjalanan.10 Dapat dipastikan bahwa Journael ofte Gedenckwaerdighe beschrivinghe vande Oost-Indische Reyse (1646) adalah catatan perjalanan yang paling terkenal. Boukema (1992) menempatkan karya Bontekoe ini pada urutan pertama Sepuluh Besar karya dari ranah Sastra Hindia-Belanda. 11

            Selain catatan dan cerita perjalanan, kehidupan di daerah koloni juga dituangkan dalam bentuk prosa lain. Seperti misalnya karya Nicolas de Graaff Oost-Indise Spiegel (1701) yang memberikan informasi mengenai kehidupan di Batavia pada waktu itu. yang mendapat pujian lebih besar adalah Oud en Nieuw Oost-Indien (1724-1726) karya pendeta Franqois Valentijn. Suatu karya acuan yang terdiri dari 5 bagian, tebalnya kurang lebih 5000 halaman. 12

Pada masa VOC, bagi banyak penulis ‘alam’ belum dianggap sebagai elemen yang penting, baru pada masa Romantik, alam menjadi sumber inspirasi. Meski demikian ada beberapa karya seni dari masa VOC yang lebih maju dari masanya’. Ketertarikan seorang pegawai VOC berkebangsaan Jerman, Rumf atau Rumphius, kepada alam Ambon dituangkan ke dalam berbagai tulisan, antara lain D’Amboinsche Rariteitkamer (1705). Perhatikan Rumphius tertuju pada adalah flora dan fauna daratan dan lautan Ambon.

            Ragam roman Indis dari ranah Sastra Hindia-Belanda seperti yang dikenal pada masa kini, tidak ditemukan pada masa VOC. Willem van Hogendorp menulis pada tahun 1779 sebuah novel tendensius Sophronisba of de gelukkige moeder door de inenting harer dochter. Setahun kemudian terbit karyanya Kraspoekol, of de droevige gevolgen van eene te verre gaande strengheid, jegens de slaaven.

Genre puisi pada masa VOC mengenal tradisi lofdichten, syair-syair yang meng-agungkan kebesaran pribadi, kemegahan suatu tempat. Kemegahan Bata-via sebagai kota pusat VOC diusung Jan Harmenz de Marre dalam lofdicht yang berjudul Batavia, berepen in zes boeken (1740). Selain lofdicht juga dikenal berbagai sajak yang mengusung nilai-nilai moral, seperti karya Matthijs Cramer D’Indiaensche Tyfferboom (1670).

            Selain berbagai bentuk syair, Paasman (1991) menjelaskan bahwa pada masa VOC lagu-lagu kerap kali didendangkan untuk membangkitkan minat orang ikut berlayar ke Hindia-Belanda. Melalui berbagai lagu dibangun citra Hindia-Belanda sebagai negeri indah tempat orang mudah meraup kekayaan. Wie wil d’r mee naar Oost-Indie varen?.. Daar kunt gij geld en goed vergaren. Lagu-lagu seperti itu dinyatakan di berbagai kesempatan; di pasar malam, di bar, pada pesta perkawinan.

 

Dari impian menuju kenyataan: Sastra perjalanan

Dari masa VOC jejak yang paling banyak ditemukan tertuang dalam ‘sastra perjalanan’13 tidak dapat dilepaskan dari kebijakan yang digariskan VOC yang mewajibkan para perwira dan bawahannya dalam skala kepangkatan tertentu untuk membuat laporan. Laporan semacam itu biasanya disebut dengan scheepsjournaal, berisi catatan terinci mengenai semua hal yang ditemui selama pelayaran, hari demi hari para awak kapal-kapten, juru mudi, pedagang, paramedis dan masih banyak fungsi lainnya mencatat dengan teliti misalnya arah datangnya angin selama pelayaran, badai, jenis kapal-kapal yang berpapasan dalam perjalanan, jumlah awak kapal yang sakit dan meninggal, mengenai kericuhan antar kelasi, pelanggaran dan sanksi yang dijatuhkan dan sebagainya. Tentu saja laporan yang ibuat itu untuk kepentingan VOC semata dan tidak dimaksudkan untuk konsumsi publik. 14

 

 

 
            Selain laporan yang harus dibuat itu, tidak jarang para awak kapal juga membuat cacatan pribadi yang menjadi wadah tempat mencurahkan perasaan. Dari catatan semacam itu diketahui kejadian-kejadian yang luar biasa, seperti misalnya Willem Ysbransts Bontekoe van Hoorn (1587-1657) yang dalam Jour-nael ofte Gedenckwaerdighe beschrivinghe vande Oost-Indische Reyse mence-ritakan bagaimana dia menjadi saksi hidup saat kapal yang dinahkodainya meledak berkeping-keping di Selat Sunda. Bagian dari jurnal yang memuat kecelakaan ini begitu terkenalnya dan menjadi fragmen yang paling sering dikutip. 15 Bagaimana dia selamat dari ledakan yang memakan korban lebih dari 150 jiwa? Pada saat itu, dia yang terlempar keudara, menengadah kelangit dan memanjatkan doa dan memohon pengampunan dan keselamatan. Voila, Tuhan mendengar dan mengabulkan doa nahkoda yang soleh itu. penyelamatan itu, oleh Paasman (2002), diibaratkan seperti kejadian yang kerap muncul dalam legenda-legenda mengenai Maria, ibu Jesus, yang dikenal dari masa abad Pertengahan. Barangkali ramuan inilah yang membuat cerita perjalanan Bontekoe begitu populer.

            Karya Rijklof van Goens, Javaense Reyse (1666) juga menarik untuk dicantumkan. Benteng-benteng VOC di masa itu biasanya dibangun dekat pesisir. Hampir-hampir tidak ada catatan yang menuturkan ke daerah pedalaman, yang jauh dari benteng VOC. Goens menuangkan pengalaman perjalanannya dari Semarang menuju ibukota kerajaan Mataram. Berbeda dengan penuli sastra perjalanan pada masanya, terdapat cukup penggambaran alam dalam karya Goens itu. kekaguman penulis terhadap keindahan alam Jawa diungkapkan. 16 Goens menggambarkan Gunung Merbabu sebagai gunung dengan peman-dangan terindah di dunia. Air terjun yang jatuh dari gunung itu teramat jernih, penduduk yang tinggal di sekitar gunung digambarkan sangat ramah.

            Selain keindahan alam, karya Goes mengungkap hal-hal yang menak-jubkan dari balik kraton Mataram. Raja digambarkan sebagi pribadi hanya yang tiga kali dalam seminggu muncul di depan umum. Keberadaannya tidak lepas dari sejumlah besar wanita: beliau memiliki empat istri resmi dan skitar 50 selir. Keselatamannya dijaga antara lain oleh satu kelompok punggawa yang terdiri dari 50 perawan, dan ditunjang oleh 3000 wanita separuh baya yang bertugas penjaga. Raja dan para selir dilayani oleh 6000 pembantu wanita. 17.

 

Prosa-prosa lainnya.

Karya Nicolaas de Graaff, Oost-Indise spiegel (1701) yang diterbitkan setelah kematiannya, menyoroti kehidupan orang Eropa dan Indo Eropa yang tinggal di Hindia Belanda, khususnya di kota Batavia. Gambaran yang diberikan oleh De Graaff antara lain mengenai para wanita di masa itu, perbudakan dan para pegawai VOC. Berdasarkan asal-usulnya De Graaff menempatkan para wanita dalam beberapa tingkatan : wanita berkulit putih yang lahir di Eropa; berkulit putih tetapi lahir di Hindia-Belanda, wanita berdarah campuran, dan wanita pribumi berkulit hitam. Selanjutnya kelompok berdarah campuran dipilah lagi menjadi Mestiso (Bapak Eropa dan Ibu Pribumi) dan Kastiso (Bapak Eropa dan Ibu Mestiso). Jelas terlihat ada variasi rasila dalam hal ini. Semakin putih warna kulitnya, semakin besar daya tarik yang dimiliki wanita. (sebuah pemikiran yang sampai sekarang masih berlaku di Indonesia, mengingat maraknya berbagai produk kecantikan untuk membuat penggunaanya tampil lebih ‘putih’.

            Mencolok untuk dicatat bahwa De Graaff melekatkan karakter negatif kepada semua wanita, apapun warna kulitnya. Para wanita dicitrakan sebagai manusia yang sombong, malas, penuh nafsu dan kejam. Pencitraan semacam itu akan terus hidup dan lekat pada banyak tokoh wanita dalam roman dan cerita dari ranah Sastra Hindia-Belanda, sampai awal abad ke-20. De Graaff mencirikan para wanita yang tinggal di wilayah tropis (Hindia-Belanda), baik yang berkulit putih maupun gelap, cenderung ‘lemah’, tetapi tidak dalam masalah seksual. Mereka malas dan menyerahkan semua urusan rumah tangga, juga pendidikan anak, kepada para budak atau pembantu mereka. Gambaran yang memper-lihatkan citra negatif wanita semacam itu selanjutnya menjadi motif yang kerap di-usung dalam banyak karya Sastra Hindia-Belanda. Graaff memberikan ilustrasi untuk memperkuat citraan itu: mengenakan baju yang terbaik, dengan diiringi serombongan budak, pada hari Minggu wanita-wanita menuju gereja. Selain tampilan fisik, De Graaff menggambarkan bagaimana para wanita itu memper-lakukan budak-budaknya. Kekerasan verbal yang dilakukan tak jarang berakhir dengan kekerasan fisik.

            De Graaff juga memberikan penggambaran negatif kepada para pria pegawai VOC, De Graaf menyebut para hamba VOC ini sebagai koruptor. Barangkali citra buruk pegawai VOC ini sedikit banyak terkait dengan motivasi orang-orang pergi ke Timur hanya sebagian kecil saja yang punya keterkaitan untuk negara dan bangsa asing sebagian besar hanya memikirkan uang. Pengungkapan praktik KKN dan koneksi yang terjadi di jaman VOC, dengan lugas diungkapkan De Graaff.

            Meski sarat dengan elemen-elemen yang membeberkan kebobrokan kehidupan di masa VOC, tetap saja karya de Graaff untuk waktu yang lama men-jadi smber yang tiada habisnya bagi pata penulis sastra perjalanan. 18.

            Karya besar lain yang layak untuk disebutkan adalah Oud en Nieuw Oost-Indien yang ditulis oleh pendeta Franqois Valentijn. Nieuwenhuys menyebutkan Valentijn menulis satu seri karya yang terdiri dari lima bagian: yang pertama dan kedua dicetak pada tahun 1724. Dalam waktu empat tahun ke lima bagian telah selesai. Karya yang luar biasa : dalam format folio, dicetak dua kolom, lima bagian, semuanya ada 8 bundel, berilustrasi dan dilengkapi dengan peta. 19 Informasi Nieuwnhuys ini diluruskan Paasman (2002), karya Valentijn terdiri dari 3 bagian, tercetak dalam 5 bundel.

            Karya besar Valentijn tersebut sampai saat ini masih saja dirujuk, dipelajari dan dibicarakan. Karya itu sarat dengan informasi dari berbagai bidang ilmu, sejarah, flora dan fauna, perilaku dan tradisi, serta tentang penduduk pribumi. Menarik untuk dicatat bahwa pendapat Valentijn mengenai berbagai kelompokm orang Asia/pribumi didasarkan pada warna kulit. Semakin terang (=putih) warna kulit seseorang semakin tinggi nilai kecantikan yang diberikan Valentijn. Menarik, bahwa stereotip yang sampai saat ini masih hadir dalam berbagai karya dari ranah Sastra Hindia-Belanda, sudah diusik oleh Valentijn di masa VOC. Melihat gaya penceritaan Valentijn, Paasman dan Beekman memberikan apresiasi yang tinggi terhadap humor dan kecenderungan bersikap anekdotis saat menuturkan kejadian-kejadian yang dialaminya atau yang diceritakan orang kepadanya. 20

            Penghargaan yang tinggi laik diberikan kepada Georg Everard Rumf atau yang lebih dikenal sebagai Rumphius, seorang hamba VOC berkebangsaan Jerman. Bertahun-tahun lamanya dia bertugas di Ambon, keelokan flora dan fauna yang hidup di pulau itu menarik perhatiannya. Dia membuat dan mengum-pulkan catatan yang lengkap tentang tanaman dan binatang, selama masa tugasnya. Setelah dia menjadi buat saat dia berumur tiga puluh dua tahun, pekerjaan itu tetap diteruskan dengan bantuan anak dan asisten. Menimbang nilai tulisan Rumphius, VOC memutuskan untuk tetap memperkerjakan Rumphius meski penulis itu buta. Bahkan untuk membantunya menyelesaikan karyanya, VOC mengirimkana sisten: seorang tukang catat dan seorang pelukis. Sampai akhir hayatnya (1702) Rumphius tinggal di Ambon, kemalangan demi kemalangan tidak mengalanginya untuk berkarya. Bahkan juga setelah istri dan anak perem-puannya menjadi korban gempa bumi.

 

 

 
            Rumphius menggambarkan alam tidak sebagai obyek semata, tetapi penuh dengan rasa ingin tahu. Dari karyanya tersirat bagaimana dia memper-lakukan alam: penuh kelembutan, keterikatan dan penuh rasa kecintaan. Semua perasaan itu terkadang diungkapkannya dalam bentuk sajak, misalnya saat dia memperliahtkan kemolekan flora bawah air Ambon yang diibaratkan bak taman milik Thetis, sang dewi laut. 21 Dari tangannya kecuali D’Amboinsche Rariteit-kamer juga dikenal Het Amboinsche kruidboek, yang diterbitkan puluhan tahun setelah kematiannya.

 

Roman dan cerita-cerita pendek

Tidak banyak karya roman dan cerita dihasilkan dari amsa VOC. Batavische arcadia (1637) karya Johan van Heemskerck, dalam salah satu bagian mengangkat unsur keberadaan kekuatan gaib di Hindia-Belanda. Dengan gaya penceritaan yang menghibur diungkapkan bahwa di balik kekuatan gaib, bisa tersembunyi ‘akal bulus’. Paasman menunjukkan bawha karya Heemskerck ini memperkenalkan salah satu motif penting yang di kemudian hari kerap diolah dalam karya dari ranah Sastra Hindia-Belanda, yaitu “stille kracht’.

            Pemikiran abad Pencerahan juga menelusup Hindia-Belanda. Pada tahun 1779 novel tendensius Sophronisba of de gelukkige moeder door de inenting harer dochter terbit. Novel ini dedeikasikan kepada para ibu di Batavia, penulis-nya Willem van Hogendorp menghimbau para ibu membaca karya itu demi kesejahteraan anak-anak mereka. Novel itu bertutur kebahagiaan seorang ibu yang anaknya selamat dari epidemi cacar yang melanda Batavia karena sebelumnya telah divaksinasi. Pemikiran tipikal abad ke delapan belas sangat kentara hadir dalam novel ini: ada imbalan untuk sikap bijak (bukan kebaikan), dan hukuman untuk ang berpandangan cupet (bukan kejahatan). 22

            Buruknya perlakuan terhadap para budak seperti yang disampaikan De Graaff dalam Oost-Indise Spiegel, juga ditemukan dalam karya Willem van Ho-gendorp, penggagas pembentukan het Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenshappen, lembaga ilmiah ternamadi Asia Tenggara. Setahun setelah novel tendensiusnya terbit Kraspoekol, of de droevige gevolgen van eene te verre gaande strengheid, jegens de slaaven. Menurut Nieuwenhuys (1973) novel kedua ini seperti juga yang pertama jauh dari kriteria yang harus dipenuhi sebuah novel. Setelah pada novel pertama masalah vaksinasi yang diangkat, dalam novel yang kedua perbudakan disorot. Kraspoekol adalah majikan yang bertangan besi terhadap para budaknya, dalam kesehariannya dia dibantu seorang mandor berasal dari Madura. Cerita berakhir tragis, Kraspoekol dan sang mandor tewas di ujung keris salah satu budak yang memberontak.

            Dirk van Hogendorp, anak Willem van Hogendrop, nantinya 20 tahun kemudian menggubah novel itu menjadi lakon drama, yang dalam kemasannya lebih jelas memperlihatkan pesan yang hendak diangkat: anti perbudakan dan traffickin, perdagangan manusia.

            Lakon drama lain yang ditulis oleh Onno Zwier Haren berdasar buku-buku yang dibacanya dia sendiri tidak pernah menginjakkan kakinya di Hindia-Belanda menuturkan tentang perang Banten, Agon, sultan van Bantam, (1769). Dalam lakon itu orang Holland disebut sebagai ‘perampok dari Barat’. Lakon itu menyoroti praktik korupsi dalam tubuh VOC. Juga kemunafikan diusung dalam karya itu, orang Belanda loyal pada VOC tetapi mereka lebih mencintai ‘emas’. Diangkat juga pemikiran tentang kebebasan, bahwa orang Belanda ingin menda-patkan kebebasan di negaranya, tetapi mereka menolak memberikan hal yang sama kepada penduduk asli Hindia-Belanda.

 

 

 
 

Puisi

Kemegahan Batavia sebagai kota pusat VOC diangkat Jan Harmenz de Marre dalam lofdicht yang berjudul Batavia, begrepen in zes boeken (1740). Selama kurang lebih 20 tahun lamanya Marre bekerja untuk VOC. Menjelang akhir masa baktinya, dia menuangkan pengalaman selama tinggal di Batavia dalam bentuk sajak. Dalam sajak-sajak yang terkumpul menjadi enam buku yang dituturkan antara lain dalam buku pertama kebesaran VOC yang digambarkan sebagai Ratu dari Timur yang berhasil membawa kekayaan ke Barat. Pujian dilantunkan untuk VOC yang berhasil membesarkan kota Batavia. Buku kedua berisi sanjak-sanjak tentang perjalanan mengunjungi bangunan-bangunan megah di Batavia, seperti Balai Kota, dan gereja tempat para pahlawan VOC dimakamkan, seperti J.P.Coen dan Cornelis Speelman, mantan Gubernur Jendral.

Dalam penghargaan terhadap orang-orang yang berjasa diberikan tempat yang layak di surga untuk mereka. Buku ketiga berisi sajak-sajak yang meng-gambarkan mimpi penyair. Dalam memimpin itu penyair bertemu dengan Coen yang menceritakan asal mula kota Batavia. Buku keempat berisi sajak-sajak tentang VOC dan benteng VOC di wilayah Asia. Dari benteng itu berangkat kapal-kapal VOC yang memuat berbagai komoditi seperti katun, sutra, rempah-rempah, kopi, opium, salpeter (Kalium nitrat), beras, jahe, perak dan berlian. Sajak tentang Jawa dimuat dalam buku keenam. Lewat sajaknya De Marre meramalkan bahwa Batavia akan selalu terkenal. Dalam sajak-sajak itu Batavia dipuja sebagai kota-nya Belanda di seberang lautan, tempat berbagai bangsa dari Asia melebur. 23.

            Selain lofdicht juga dikenal berbagai sajak yang mengusung nilai-nilai moral, seperti karya Matthijs Cramer D’Indiaensche “Tyfferboom (1670). Karya Cramer ini bentuknya seperti kumpulan emblemata, sajak-sajaknya diberi nomor dan dimulai dengan sebuah semboyan. Gambaran tentang Hindia-Belanda. Peri-laku negatif yang dipaparkan Cramer dengan tajam dan bernada satiris dalam sajak-sajaknya, misalnya tentang sikap sombong, suka meroddel, berjudi, mabuk-mabukan, menipu, munafik, selingkuh, merupakan motif yang sampai abad ke dua puluh masih ditemukan dalam berbagai karya dalam ranah Sastar Hindia-Belanda.

            Pembunuhan orang-orang Cina di Batavia (1740) juga menjadi ilham bagi beberapa penyair. Di Negeri Belanda, Willem van Haren memprotes pembunuhan itu dalam kumpulan sajaknya Gedicht op den moord gepleegd aan de Chinezen te Batavia den IX Octob. Anno 1740 yang terbit dua tahun setelah kejadian pembataian etnis itu. Gerrit Verbeet, yang bekerja untuk VOC dan menjadi saksi mata pembantaian orang-orang Cina tersebut, menuangkan kejadian itu dalam sajak Zeege-zang (1752). Dalam kedua karya yang disebut, jelas terlihat kritik ter-hadap praktik kekerasan yang keputusannya sering berada di tangan pembesar VOC.24.

            Puisi di masa VOC juga erat terkait dengan ‘kesempatan khusus’. Sajak-sajak ditulis untuk kejadian-kejadian luar biasa dalam hidup seseorang; keahlian, perkawinan, kematian, promosi, pertemuan dan perpisahan.

            Jacob Steendam, penyair dan pengagum VOC, mengelu-elukan keme-nangan VOC atas Makasar dalam sajak Dank-offer yang berisi pujian kepada Tu-han karena telah melepaskan Belanda dari belenggu Spanyol, menunjukkan jalan ke Hindia-Belanda dan merestui pendirian kota Batavia. Laurens van Estland, teman semasa Steendam menulsi untuk pengangkatan Cornelis Speelman sebagai Gbernur Jendral apda tahun 1681. Dia juga menulis sajak dalam rangka sebuah pameran yang mempertontonkan penggalan kepala seorang kapten Ambon, Joncker Manipa Saweru (1689), yang mati saat pemberontakannya ditumpas oleh VOC.

 

Lagu-lagu

Bagi mereka yang buta huruf, atau yang tidak memiliki akses untuk membaca jurnal perjalanan, mendapatkan informasi mengenai negeri penghasil rempah-rempah, Hindia-Belanda, dari berbagai lagu yang didendangkan semasa VOC. Lagu-lagu menawarkan informasi, misalnya tentang perjalanan ke Timur, kehidupan di negeri tropis, perjalanan pulang ketanah air. Berbagai lagu diperdengarkan dalam acara yang dihadiri banyak orang, misalnya dalam pesta pernikahan, dipasar-pasar tradisional, dan di pasar malam. Biasanya lagu semacam itu tidak sulit didendangkan kerena mengikuti melodi lagu-lagu rakyat yang telah dikenal, syairnya mudah dihapal dan iramanya menarik. 25.

            Lagu-lagu tersebut besar kontribusinya dalam membangun citra Hindia-Belanda yang digambarkan sebagai negeri luilekkerland tempat orang mudah me-raup kekayaan daerah kaya kandungan emas dan batu permata, rempah-rempah, makanan dan minuman yang lezat dan wanita-wanita ‘menantang’. 26 Alasan yang terakhir sangat masuk akal. Mereka yang diiming-iming dan akhirnya ikut belayar dengan kapal dagang VOC adalah pria yang kebanyakan berlatar belakang ‘hi-tam’. Setengah dari mereka berasal dari negara-negara Eropa: orang-orang dari Skandinavia, Perancis, Italia dan terutama orang Jerman. Seringkali mereka adalah kelompok orang bermasalah – miskin, pengangguran, pemabok, penjudi, tidak memiliki kemahiran berlayar dan kondisi fisiknya sering kali prima. 27

            Beberapa lagu mengalami adaptasi dan masih dinyanyikan berabad-abad setelah VOC runtuh. Lagu-lagu itu diperkenalkan kepada khalayak ramai baik secara lisan maupun tertulis. Kumpulan lagu juga diterbitkan dalam bentuk buku, sebagian besar lagu tidak diketahui penciptanya. 28

            Di samping lagu-lagu yang bersifat propaganda, juga dikenal lagu dengan kandungan moral dalam syairnya, yang menuturkan resiko pelayaran ke Hindia-Belanda dan betapa berbahayanya kehidupan di Apenland, negeri monyet.

            Mengenai lagu dari amsa VOC ini Paasman secara panjang lebar meng-upasnya dalam Wie wil d’r naar Oost-Indie vareb? Liedjes uit de Compagniestijd (1991)

 

Simpulan

Dari ulasan di atas disimpulkan bahwa dari masa VOC keberagaman karya yang dihasilkan masih terbatas. Yang terutama banyak dihasilkan adalah sastra perjalanan, dengan tema utama mengenai bahaya pelayaran ke Hindia-Belanda dan kehidupan di negeri seberang. Jenis prosa lain bersifat ilmiah-populer, tulisan mengenai flora dan fauna, adat-istiadat dan tradisi. Dari genre puisi tidak dikenal maha karya. Apabila teks-teks lagu dapat dianggap bagian dari genre ini, maka dapat disimpulkan bahwa lagu-lagu itu yang paling berperan untuk membentuk citra negeri Hindia-Belanda.

            Semua karya yang dihasilkan masih menggunakan sudut pandang Barat, dari kacamata penulis/pencerita bukan Timur. Gambaran yang dimunculkan tentang penduduk asli Hindia-Belanda masih sangat samar dan tidak lengkap: perhatian terutama diberikan untuk wanita dalam pengertian yang cenderng sempit, yaitu dalam relasinya dengan pria, budak dan pembantu. Tidak cukup banyak karya yang mengangkat keindahan alam, dan hanya ada sedikit tulisan yang mengusung tema kebudayaan.

            Dengan segala keterbatasan yang dimunculkan dalam berbagai karya yang disebut di atas, menarik untuk mengamati bahwa beberapa pandang-an/tema/pendapat yang diusung dari masa VOC sudah ‘modern’ dan tidak lekang karena waktu. Perilaku yang melanggar norma kesusilaan, korupsi, kekerasan masih tetap ‘in’ sekarang ini. Kepedulian terhadap alam, kesetaraan pun seka-rang masih harus ditingkatkan. Masalah trafficking, dalam kemasan yang berbeda marak diperbincangkan.

            Siapa yang akan ikut saya berlayar ke wilayah baru, Sastra kolonial di jaman VOC? Kendala dan resiko mungkin tidak sebesar masa itu, tetapi iming-iming luilekkerland tidak dapat saya janjikan.

 

 

 
   
 

1Disampaikan dalam Seminar ‘Sastra dan Sejarah dalam Masa VOC’. FIB-UI, Depok 14 Januari 2008

2Zonneveld (1995), Album van Insulinde, hlm. 1

3Paasman, Bert, Lof van Oost-Indien. Liedjes uit de VOC-tijd, dalam Indische Letteren, 1991m, hlm 1

4Zonneveld (1995), hlm. 1

5Zonneveld (1995), hlm.3

6Paasman (2002) “De Indisch-Nederlandse literatuur uit de VOC-tijd’ dalam D’haen Europa Buitenggats. Koloniale en Postkoloniale Lietratuur in Europese Talen, hlm.33.

7Ibid, hlm. 37

8Kata ‘Sastra’ di sini diartikan seperti yang dimaksudkan oleh Nieuwenhuys dalam Oost-Indische Spiegel. Wat Nederlandse Schrijvers en dichters over Indonesie hebben geschreven, vanaf de eerste jaren der Compagnie tot op heden. Buku Niueuwenhuys ini dianggap sebagai buku acuan utama dalam Sastra Hindia-Belanda

9Zonneveld (1995), hlm. 10

10Ibid, hlm, 3

11Boukema,H.J.”Indische-Nederland letterkunde”. Dalam Neerlandica Extra muros. Februari 1992.

12Nieuwenhuys (1973), Oos-Indische Spiegel. Wat Nederlandse. Wat Nederlandse schrijvers en dichters over Indonesie hebben geschreven, vanaf de eerste jatren der Compagnie tot op heden. Hlm. 50

13Meminjam peristilahan yang digunakan Paasman (2002) yang mengelompokkan jurnal, catatan dan cerita pernjalanan menjadi reisliteratuur

14Paasman (2002) hlm. 67

15Zonneveld (1995), hlm. 4

16Nieuwenhuys (1973), hlm.25-26

17Zonneveld (1995), hlm 6

18Paasman (2002), hlm. 74

19Nieuwenhuys (1975), hlm. 49-50

20Paasman (2002), hlm.81

21Paasman (2002), hlm 78

22Nieuwenhuys 91973),hlm. 68

23Paasman (2002), hlm. 50

24Paasman (2002), hlm 57

25Paasman (1991), hlm 150 dan Paasman (2002), hlm 62

26Paasman (1991), hlm 9

27Paasman (1991), hlm 151

28Paasman(2002), hlm 62

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Baay, Reggie & Peter van Zonneveld (1988)

            Indisch-Nederland Literatuur. Dertien bijdragen voor Rob Nieuwenhuys.

            Utrecht: HES uitgevers

 

Beekman, E.M. (1998)

            Paradijzen van weller. Koloniale literatuur uit Nederland-Indie, 1600-1950,

            Amsterdam: Prometheus.

 

Boukema,H.J.(1992)

            Indisch-Nederland letterkunde. Dalam Neerlandica Extra muros. Tijdschrift van de

             Internationale Vereniging voor Neerlandistiek. XXX, nr. 1, Februari 1992. Lier: J.van In.

 

Kempen, Michiel van, Piet Verkruijsse dan Adrienne Zuiderweg (red). (2004)

            Wandelaar onder de palmen. Opstellen over koloniale en postkoloniale literatuur,

             opgedragen aan Bert Paasman, Leiden: KITLV Uitgeverij, 2004

 

Nieuwenhuys, Rob (1973),

            Oost-Indische Speigel. Wat Nederlandse schrijver en dichter over Indonesie hebben

geschreven, vanaf de eerste jaren der Compagnie tot op heden. Cetakan ke-3,

Amsterdam: E.M. Querido.

 

Paasman, Bert (ed) (1991)

            Wie wil d’r naar Oost-Indie varen? Liedjes uit de Compagniestijd. Amsterdam: E.M.

Querido.

 

Paasman, Bert (1991)

Lof van Oost Indieen. Liedjes uit de VOC-tijd. Dalam: Indische Letteren.

Tijdschrift van de werkgroep Indisch-Nederlandse Latterkunde. Tahun

             keenam/nr. 1/Maret 1991.

 

Paasman, Bert (2002)

            De Indische-Nederland literatuur uit de VOC-tijd. Dalam: Theo D’haen (red). Europa

Buitengaats. Koloniale en Postkoloniale Lietraturen in europese talen.

            Bagian I. Amsterdam: Uitgeverij Bert Bakker, 2002

 

Zonneveld, Peter van (1995)

            Album van Insulinde. Beknopte geschiedenis van de Indiesch-Nederlandse literatuur.

Amsterdam: Amsterdam University Press.

 

 

 

 

 

 

 

 

 



 

 

 

 

 

 

 

 

 



VALENTIJN : ANTARA ETIKA DAN ESTETIKA

Oleh Prof.R.Z.Leirissa – FIB UI

 

FRANCOIS VALENTIJN

Tidak mudah menulis sejarah VOC dimasa VOC. Para penguasa VOC (Heeren Seventien) melarang para pegawai atau mantan pegawainya untuk menulis apa saja yang berkenaan dengan kegiatan badan dagang itu. Larangan itu dapat dipahami karena rahasia perusahaan tidak boleh jatuh ketangan pedagang lain, dan larangan semacam itu sedikit-banyaknya masih berlaku bagi dunia usaha di masa kini.

            Sekalipun ada larangan tersebut di atas, dari waktu ke waktu ada beberapa pegawai atau mantan pegawai VOC yang memberanikan diri menulis sejarah VOC. Dua diantaranya yang terkenal sekarang adalah George Everhardus Rumphius (1627-1702) dan Francois Valentijn (1666-1727). Rumphius, seorang pegawai VOC keturunan Jerman (nama aslinya adalah George Eberhard Rumphf). Dengan status sebagai tentara VOC ia tiba di Ambon pada tahun 1653, tetapi dialihkan sebagai pegawai sipil. Dengan izin VOC sekitar awal 1669 ia mulai mempelajari secara sistematis fauna dan flora di pulau Ambon. Hasilnya adalah sebuah naskah yang berjudul Het Ambonsche Kruidboek yang lebih dikenal sebagai Herbarium Amboinensis. Karya yang diselesaikan pada tahun 1690 itu dikerjakan dengan bantuan beberapa asisten karena sejak 1670 Rumphius telah menjadi buta (glaucoma) dan sebab itu pula ia dikenal dengan julukan “De blinde ziener” (si buat yang melihat). Selain itu Rumphius juga menulis tentang dunia bintang (zoology) dengan judul Ambonsche Rariteitenkamer. Sebuah naskah lain mengenai zoology yang sekarang tidak ditemukan kembali adalah Het Ambonsche Dierboek.

            Sekalipun lebih menaruh perhatian pada tanaman dan binatang, sebagai seorang ilmuwan Rumphius juga tertarik pada manusia. Dari tangannya muncul sebuah naskah sejarah Ambon. Namun penerbitannya dilarang oleh VOC. Naskah itu baru diterbitkan dalam dua jilid pada tahun 1910 dengan judul Ambonsche Historie1[3]. Selain itu juga menulis mengenai geografi sosial pulau Ambon dengan judul De Ambonsche Landbeschrijving2.

            Francois Valentijn lahir 39 tahun setelah Rumphius (1666) di Dordtrecht (Belanda). Setelah menamatkan pendidikannya dalam bidang teologi dan filsafat di Leiden dan Utrecht, ia dipekerjakan oleh VOC sebagai pendeta dengan tempat kedudukan di Ambon. Ia berada di Ambon antara 1685 sampai 1695 dan antara 1706 dan 1714. Dalam periode pertama di Ambon ia dekat dengan Rumphius, bahkan belajar bahasa Melayu dari botanis itu. Dalam itu ia menikah dengan seorang janda kaya, yaitu Cornelia Snaats janda dari teman dan pelindungnya yang kaya Hendrik Snaats. Sebab itu ketika ia kembali ke Belanda dalam tahun 1714 ia tidak mencari pekerjaan tetapi kecuali menulis bukunya yang terkenal itu3. sekembali di Dordtrech selama 10 tahun ia menulis sebuah buku sejarah VOC yang monumental yang secara popular dikenal dengan nama Oud en Nieuw Oost Indien yang diterbitkan tahun 1672.

            Ada tiga perbedaan mencolok antara Rumphius dan Valentijn. Pertama, kalau Rumphius berdiam di Ambon sebagai seorang ahli botani selama sekitar 50 tahun dan meninggal di sana, maka Francois Valentijn bertugas sebagai pendeta di pulau itu hanya sekitar 12 tahun.

            Perbedaan pokok kedua adalah bahwa dalam sekian banyak naskah itu Rumphius hanya menulis mengenai pulau Ambon. Sebaliknya Valentijn, selain menulis mengenai Maluku, (jilid I dan jilid II) juga menulis mengenai wilayah-wilayah kegiatan VOC lainnya di Asia (jilid III sampai jilid VIII).

 

4M.J. Sirks dalam disertasinya di Universitas Amsterdam 1915 yang berjudul “Indische Natuuuronderzoek”. Bab mengenai Rumphius yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh Lely M Perry, Ph.D.berjudul “Rumphius the blind of Ambon”, Internet.M.J. Sirks dalam disertasinya di Universitas Amsterdam 1915 yang berjudul “Indische Natuuuronderzoek”. Bab mengenai Rumphius yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh Lely M Perry, Ph.D.berjudul “Rumphius the blind of Ambon”, Internet.

 
            Perbedaan mencolok ketiga adalah bahwa sejak abad ke-17 hingga hari ini Rumphius tetap dihormati oleh kalangan ilmuan internasional sebagai seorang yang berjasa bagi ilmu pengetahuan, pada tahun 1681 ia mendapat penghargaan dari sebuah lembaga ilmiah yaitu “Academia Naturea Curiosorum” dengan gelar “Plinus Indicum. 4. sebaliknya Valentijn, yang bukunya memang laku keras, mendapat penilaian yang negative baik oleh para pejabat VOC maupu oleh para sejarahwan Belanda. Semasa hidupnya ia tidak disenangi oleh para petinggi VOC, terutama Gubernur Jenderal Joan Maetsuycker yang memegang jabatan itu selama sekitar 50 tahun dan mengenal Valentijn. Para sejarahwan Belanda dari bagian pertama abad ke-20 menuduh Valentijn sebagai seorang yang tidak jujur dan yang menggunakan profesi kependetaannya untuk mencari kekayaan semata-mata karena kawin dengan janda kaya. Sejarahwan F. de Haan dalam tulisannya yang berjudul Preanger Regentschappen melontarkan tuduhan bahwa Valentijn adalah seorang plagiator. Kritik itu masih berkumandang dalam bagian kedua abad ke-20 seperti nampak dalam tulisan Prof.E.M. Beekman dari Universitas Massachusets. Bahkan Beekman menuduh Valentijn sebagai seorang opertunis dan pencuri naskah orang lain yang diclaim sebagai naskahnya, yaitu naskah terjemahan Injil dalam bahasa “Melayu Rendah” 5. Menurut Beekman, terjemahan Injil itu sesungguhnya dilakukan oleh Simon de Larges yang meninggal tahun 1677. Di kemudian hari naskah terjemahan itu jatuh ketangan seorang pendeta lain yang kebetulan tinggal bersama Valentijn yang tiba di Ambon tahun 1685. ketika pendeta itupun meninggal tahun 1687, naskah terjemahan itu jatuh ketangan Valentijn. Ketika kembali ke Indonesia, pada tahun 1706 Valentin menyerahkan naskah itu kepada para pejabat VOC. Namun naskah itu ditolak karena “mutu bahasa Melayunya yang tidak merata dan dugaan pemalsuan yang tidak pernah bisa dibantah oleh Valenijn” 6. Naskah terjemahan Injil dari Valentijn itu hingga kini tidak pernah ditemukan kembali. 7

Sayang sekali saya tidak dapat membaca biografi Valentijn yang terakhir yang ditulis oleh R.R.F. Habiboe dengan judul Tot Verheving van Mijne Natie. Het Leven en Werk van Francois Valentijn (1666-1727) 8. Dari berbagai keterangan yang saya peroleh nampaknya Habiboe memiliki versi tersendiri mengenai karya dan[4] pribadi Valentijn. Ada nada positif pada judul buku itu yang nampaknya diambil dari keterangan Velentijn sendiri dalam bukunya dimana antara lain ia menulis (terjemahan dari penulis) bahwa tujuan menulis bukunya itu adalah”..untuk menerapkan segala yang saya miliki bagi kemajuan Bangsa saya..”9

 

KARYANYA

Karya monumental dari Valentijn itu secara populer kenal dengan judul Oud en Nieuw Oost-Indien (8 jilid). Judul lengkapnya adalah Oud en Nieuw Oost-Indien, bevatende een naaukurige en uitvoerege verhandelingen van Nederlands Mogentheyd in die gewesten. En benevens een wydlustige beschrijving der Moluccos, Amboina, Banda, Timor en Solor, Java, Suatte, Choromandel, Pegu, Arracan, Bengale, Mocha Persien, Malacca, Tonkin, Cambodia, Siam, Borneo, Bali, Kaap de Goege Hoop en van Mauritius. Dordtrech-Amsterdam : J. van Braam onder Linden, 1724-1726 (terdiri dari lima bagian, diterbitkan dalam 8 jilid). Tebal buku ini adalah 5144 halaman, dihiasi dengan 79 buah peta dan 182 ilustrasi lainnya.

            Oud en Nieuw Oost-Indien dibagi dalam 5 bagian yang diterbitkan dalam 8 jilid sebagai berikut :

Bagian I berisi siskripsi mengenai Maluku Utara serta Sulawesi Timr dan pulau-pulau disekitarnya;

Bagian II berisi wilayah Ambon dan pulau-pulau sekitarnya seperti Seram, Buru, Nusalaut, Haruku, beserta diskripsi geografisnya;

Bagian III berisi sejarah gereja dari wilayah-wilayah tersebut di atas, keterangan mengenai flora dan faunanya, Bali, Tonking, Cina. Kamboja dan Siam.

Bagian IV berisi keterangan mengenai pulau Jawa, riwayat hidup para Gubernur Jenderal VOC 1610 hingga 1729. Kemudian menyusul sejarah pembentukan kota Batavia, disusul dengan riwayat hidup dinasti Moghul di India, lalu Cina, Formosa “atau Tayouan”, dan diakhiri dengan kisah pelayaran bulak-balik sebanyak 4 kali Belanda - Indonesia.

 

9Kutipan itu dimuat selengkapnya dalam bahasa Inggris oleh Beekman, opcit.hlm 71. Terjemahan bahasa Indonesia dari penulis

 
Bagian V berisi diskripsi mengenai Koromandel dan bagian-bagian lain dari India, Persia, Malaka, Srilangka, Malabar, Jepang, Tanjung Harapan, dan pulau Mauritius.

            Dari daftar pembagian isi itu dapat dipahami bahwa Valentijn tidak mengikuti suatu konsep yang jelas untuk menyusun bukunya, baik geografis maupun historis. Ketidak teraturan itu lebih jelas lagi dalam setiap bagian, umpamanya Sumatra diselipkan antara Malaka dan Srilangka. Sulawesi selain terdapat dalam bagian 1 juga terdapat dalam bagian III. Tongking (Vietnam Utara) diselipkan antara Jawa dan Bali, India dibahas dalam 3 bagian. Uraian mengenai Jawa dan Sumatra hanya sepintas lalu dibandingkan dengan uraian mengenai Maluku Utara dan Ambon yang mencakup dua jilid penuh (jilid I dan II).10.

            Dari judul bukunya itu dapat disimpulkan bahwa Valentijn membagi sejarahnya dalam dua periode utama. Periode pertama adalah masa pra-VOC yang disebutnya sebagai Oud Oost-Indie dan masa VOC sebagai Nieuw Oost-Indie. Dua periode itu terpisah secara ketat dalam uraiannya dan tidak terjadi tumpang tindih. Samasekali tidak ada upaya untuk menjelaskan bagaimana atau sampai dimana VOC mempengaruhi perkembangan masyarakat lokal yang berintegrasi dengannya. Teori-teori interaksi seperti itu memang tidak lazim dalam masa VOC karena menunggu perkembangan ilmu sejarah dalam abad ke-19 dan ke-20.

 

ETIKA

Sebagai seorang pendeta dan dengan latar belakang pendidikan filsafat dan teologi, dapat dipastikan bahwa Valentijn mempunyai pengetahuan dasar mengenai sejarah. Namun apakah ia memiliki pengetahuan mengenai bagaimana menulis sejarah? Bagaimana orang Barat pada masa Valentijn menulis sejarah? Terobosan yang dipelopori oleh Leopold von Ranke (1795-1886) dalam bukunya yang diterbitkan tahun 1824 11 merupakan kritikan yang tajam mengenai cara penulisan sejarah di masa itu 12. Ranke menganjurkan para penulis sejarah untuk tidak hanya mengutip-kutip ulang buku-buku yang telah ditulis sebelumnya tetapi langsung menggunakan dokumen-dokumen otentik dengan cara yang kritis. Sebab itu dapat dipastikan bahwa penggunaan dokumen-dokumen otentik belum menjadi keharusan di masa itu.. Metode itulah yang umumnya digunakan oleh Valentijn.

           Kritikan yang dilontarkan oleh para sejarawan pada buku Valentijn tersebut adalah bahwa ia tidak jujur mengemukakan dari siapa atau dari buku siapa ia memperoleh keterangan untuk bukunya itu. sebab itu ia dicap sebagai seorang yang tidak etis dan disebut sebagai plagiator.

            Bagaimana sesungguhnya Valentijn bekerja? Ternyata dalam bukunya itu disana sini ia menyebut bahwa ia menggunakan tulisan atau keterangan dari orang-orang tertentu. Secara khusus ia menyebut nama Rumphius yang dikenalnya di Ambon dan yang karya-karyanya, baik mengenai sejarah maupun mengenai flora, fauna, dan dunia binatang di Maluku, disadurnya dengan panjang lebar. Dibeberapa tempat ia menulis bahwa ia juga memperoleh berbagai dokumen dari para pegawai tertentu, kemungkinan besar ketika ia telah kembali di negeri Belanda13.

            Tetapi mengenai Maluku, Batavia, dan sebagian dari pulau Jawa, nampaknya Valentijn juga menggunakan hasil observasinya sendiri ketika ia berada di tempat-tempat itu. bahkan mengenai sejarah pra-VOC di Maluku (“Oud Oost-Indien”) ia menggunakan hasil wawancara. Ketika ia hendak menulis sejarah kerajaan-kerajaan di Maluku Utara (dalam jilid I) ia sempat mendatangani beberapa bangsawan Ternate yang sedang dipenjarakan di Ambon. Kepada mereka ia tunjukkan sebuah naskah lama mengenai sejarah Ternate yang ditulis dalam bahasa Ternate dengan menggunakan aksara Arab. Naskah itu diperolehnya dari seseorang di Luhu, pusat perdagangan Ternate di Seram. Ia meminta agar para tawanan itu menerjemahkan naskah itu baginya. Ada indikasi bahwa Valentin mengenal berbagai naskah lama lainnya dari Maluku Utara yang kini sudah tidak ada lagi.

            Selain itu di Maluku Valentijn sempat juga mempelajari bahasa Melayu dari Rumphius, sekalipun hanya sekitar 3 bulan. Namun nampaknya istrinya, Cornelia Snaats sangat mahir dalam bahasa Melayu itu, dan merupakan bantuan yang menentukan bagi Valentijn dalam menyusun khotbahnya dalam bahasa Melayu. Valentijn nampaknya juga menggunakan jamus bahasa Melayu yang disusun oleh Rumphius yang naskahnya hingga kini belum ditemukan kembali14.

 

13Ibid.hlm.59-63

14Ibid.hlm. 67

 
            Kalau keterangan mengenai keadaan di Indonesia bisa diperoleh dari pengalamannya sendiri serta para mantan pegawai VOC atau dengan cara mengutip Rumphius, bagaimana Valentijn memperoleh keterangan mengenai wilayah-wilayah Asia lain yang merupakan wilayah kegiatan VOC yang dicakup dalam bukunya itu?. Bagaimana umpamanya Valentijn memperoleh sumber sejarah untuk mendiskripsikan sejarah di wilayah-wilayah Persia, India, Srilangka, Asia Tenggara, Cina dan Jepang?

            Menurut Beekman informasi mengenai Persia dan Koromandel diperoleh Valentijn dari tulisan-tulisan dan buku-buku dari seorang yang bernama Herbert de Jager yang mungkin lahir tahun 1636 dan meninggal di Batavia tahun 169415. De Jager adalah seorang ahli bahasa-bahasa Timur lulusan Universitas Leiden. Setelah lulus ia menjadi pegawai VOC dan mengenal, bahkan berkiriman surat dengan Rumphius di Ambon. Ia pernah bertugas sebagai penerjemah di Persia dan Koromandel pertama kali selama 15 tahun antara 1665 hingga 1680, dan kedua antara 1682 dan 1687. Tidak lama setelah meninggal di Batavia pada tahun 1694 berkas-berkasnya dilelang. Kebetulan pada tahun 1694 Valentijn juga berada di Batavia dalam perjalanan pulang ke Belanda. Namun dalam bukunya itu Valentijn menulis bahwa ia tidak bertemu dengan de Jager karena, tulisnya, ahli bahasa itu meninggal di Isfahan (Persia). Namun baik de Haan maupun Beekman yakin bahwa Valentijn bohong untuk menutup kenyataan bahwa dia memang menggunakan bahan-bahan dari de Jager untuk mendiskripsikan keadaan di Persia dan Koromandel.

            Pekerjaan rumah bagi para ahli historiografi adalah menjawab pertanyaan bagaimana Valentijn memperoleh sumber sejarah untuk menulis mengenai India, Srilangka, Asia Tenggara, Cina dan Jepang. Selain itu seluruh buku Valentijn itu masih harus dikaji ulang untuk menentukan keabsahan dari keterangan-keteranganya.

 

ESTETIKA

 

15Beekman,op,cit,hkm.67-70

 
Betapapun juga Oud en Niew Oost-Indien itu memang bermanfaat bagi ilmu sejarah. Sumber sejarah yang digunakannya memang belum ditelusuri secara tuntas, tetapi jelas ada keterangan-keterangan yang hanya bisa diperoleh dari buku itu saja. Namun harus dikatakan juga bahwa sebagai historiografi buku Valentijn tersebut samasekali tidak etis.

            Namun sekalipun dari segi sejarah karya valentijn itu dikatakan tidak etis, dari segi sastra ada nilai estetikanya. Menurut Beekman, tidak kurang dari seorang Edward du Perron, kritikus sastra modern itu, yang menilai bahwa Valetijn dapat dikategorikan sebagai “a remarkably fine storyteller in proses” 16.

            Buku Valentijn itu juga merupakan sumber inspirasi bagi Maria Dermount (1888-1962). Novelis Belanda itu banyak menggunakan keterangan dari buku Valentijn itu untuk menulis novel-novelnya yang mengandung cerita-cerita yang berlangsung di Ambon dan sekitarnya, seperti de Tien Duizend Dingen, atau cerpen-cerpen yang dikumpulkan dalam antologinya yang berjudul Verzamelde Werken seperti “Koning Baboe en de veertig jongelingen”, “De boom des levens” dan “De guede slang”.

            Mengenai  pengalamannya membaca buku Valentijn itu novelis Belanda itu menulis (terjemahan dari penulis): “Saya sering membaca buku itu, terutama bagian-bagian mengenai “Diskripsi tentang Maluku” dan “Masalah-masalah Maluku” tetapi kemudian menyingkirkannya karena saya terganggu oleh begitu banyak kesombongan, kemunafikan, bajakan dari Rumphius.

 










16ibid.hlm.79

17Beekman,op,cit.80,93

 
 

[3] Bijdragen Koninklijk Instituut voor Taal-lan en Volkenkunde. Jilid 65 (1910)

2 Diterbitkan kembali dengan judul De Ambonse Eilanden Onder de VOC Zoals Opgetekend in De Ambonsche Landbeschrijving Utrecht: Landelijke Stuenpunt Educatie Molukkers 2002.

3E.M.Beekman, “Francois Valentijn”, dalam Beeckman (cd). Fugative Dreams An.Anthology of Dutch Colonial Literature (Singapore: Periplus paperback edition 1988), hlm. 55-95.

 

5Beekman, Op.cit.hlm.67.

6 Ibid..

7 Dalam abad ke-18 VOC menerbitkan terjemahan Injil dari Leydekker.

 

8 Franeker – Wijnene 2004.

 

Welcome

Newest Members

Gemi MohaWKAkhmad Sekhu