genre dan tema-tema karya ‘sastra’ jaman VOC1.
Pengajar Sastra pada Program Studi Belanda, FIB-UI
2 April 1595 tiga kapal dagang besar,
Pada masa itu dibutuhkan waktu lebih dari setengah tahun untuk menempuh perjalanan dari Negeri Belanda menuju
Besarnya hambatan yang menghadang membuat hanya sedikit saja dari se-jumlah orang yang berangkat dari Eropa, kembali dengan selamat ke tanah air. 3 Dari 240 awak yang pada tahun 1595 berlayar ke Timur, hanya 87 orang sa-ja yang pada tahun 1597 menginjakkan kaki kembali di Negeri Belanda. 4
Sebagian dari mereka yang selamat dari perjalanan panjang yang penuh bahaya ke negeri penghasil rempah, ada yang memutuskan untuk menetap di
Tidak berimbangnya jumlah pria Eropa dan wanita berkulit putih di Hindia-Belanda menyuburkan praktik hubungan campur antara pria Eropa dan wanita lokal. bahkan pada saat itu muncul anggapan bahwa wanita
Keturunan yang hadir dari persinggungan dua budaya itu juga dianggap memiliki data tahan yang lebih kuat terhadap penyakit-penyakit daerah tropis. VOC masih saja dapat memetik keuntungan dari para keturunan itu: yang laki-laki bisa bekerja untuk VOC dan yang perempuan menikah dengan lelaki Belanda yang bekerja untuk VOC. Demikianlah secara perlahan-lahan muncul budaya Mestis, di dalamnya melebur elemen-elemen Barat dan Timur. 5
Tulisan ini mencoba memberikan sedikit gambaran mengenai beberapa genre dan tema yang diolah dalam karya-karya dari masa VOC dalam Sastra Belanda. Tentu saja makalah ini tidak dapat memuat gambaran yang lengkap, mengingat masa keberadaan VOC di Hindia-Belanda meliputi rentang waktu yang panjang (1602-1799) dan banyaknya tulisan yang dihasilkan dari masa itu. Keter-batasan waktu untuk dalam seminar ini juga memaksa saya untuk melakukan seleksi dalam menyebutkan karya dan tema.
Karya, nama dan tema yang disebut dalam makalah ini mewakili mereka yang mempublikasikan tulisannya – baik di Belanda maupun Hindia-Belanda mengenai keberadaan VOC di Hindia-Belanda. Karya yang mengkaji wilayah terirori VOC lainnya tidak akan dibicarakan. Seleksi juga dilakukan berdasarkan apresiasi para pegiat dan pemerhati Sastra Hindia-Belanda terhadap karya-karya tertentu yang dirangkum dalam berbagai acuan.
Singgungan budaya Barat (Belanda) dengan budaya daerah yang didatangi nantinya dikoloni (Hindia-Belanda dituangkan dalam berbagai karya. Karya-karya ini selanjutnya oleh Rob Nieuwenhuys (1973) dikategorikan sebagai Indisch-Nederlandse Letterkunde, Sastra Hindia-Belanda. Dalam ranah sastra ini dikenal berbagai genre. “Tot de Indisch-Nederlandse letterkunde behoren literaire en niet literaire genres”. Paasman dalam D’haen (2002) menyarikan Nieuwenhuys dan E.M.Beekman yang berpendapat bahwa Sastra Hindia-Belanda berakar dari
Menyoal jejak VOC dalam sastra8, Zonneveld menjelaskan hanya bebe-rapa genre yang ditemukan. 9 Yang paling dominan ditemukan adalah catatan-ca-tatan perjalanan. Pada mulanya catatan ini berupa jurnal-jurnal zakelijk/resmi, berisi catatan yang ditulis para kapten kapal. Dari catatan yang bersifat resmi selanjutnya berkembang penggambaran perjalanan. Terkadang penggambaran ini tidak lepas dari bumbu ‘elemen fiktif, jadilah cerita-cerita perjalanan.10 Dapat dipastikan bahwa Journael ofte Gedenckwaerdighe beschrivinghe vande Oost-Indische Reyse (1646) adalah catatan perjalanan yang paling terkenal. Boukema (1992) menempatkan karya Bontekoe ini pada urutan pertama Sepuluh Besar karya dari ranah Sastra Hindia-Belanda. 11
Selain catatan dan cerita perjalanan, kehidupan di daerah koloni juga dituangkan dalam bentuk prosa lain. Seperti misalnya karya Nicolas de Graaff Oost-Indise Spiegel (1701) yang memberikan informasi mengenai kehidupan di
Pada masa VOC, bagi banyak penulis ‘alam’ belum dianggap sebagai elemen yang penting, baru pada masa Romantik, alam menjadi sumber inspirasi. Meski demikian ada beberapa karya seni dari masa VOC yang lebih maju dari masanya’. Ketertarikan seorang pegawai VOC berkebangsaan Jerman, Rumf atau Rumphius, kepada alam
Ragam roman Indis dari ranah Sastra Hindia-Belanda seperti yang dikenal pada masa kini, tidak ditemukan pada masa VOC. Willem van Hogendorp menulis pada tahun 1779 sebuah novel tendensius Sophronisba of de gelukkige moeder door de inenting harer dochter. Setahun kemudian terbit karyanya Kraspoekol, of de droevige gevolgen van eene te verre gaande strengheid, jegens de slaaven.
Genre puisi pada masa VOC mengenal tradisi lofdichten, syair-syair yang meng-agungkan kebesaran pribadi, kemegahan suatu tempat. Kemegahan Bata-via sebagai
Selain berbagai bentuk syair, Paasman (1991) menjelaskan bahwa pada masa VOC lagu-lagu kerap kali didendangkan untuk membangkitkan minat orang ikut berlayar ke Hindia-Belanda. Melalui berbagai lagu dibangun citra Hindia-Belanda sebagai negeri indah tempat orang mudah meraup kekayaan. Wie wil d’r mee naar Oost-Indie varen?.. Daar kunt gij geld en goed vergaren. Lagu-lagu seperti itu dinyatakan di berbagai kesempatan; di pasar malam, di bar, pada pesta perkawinan.
Dari impian menuju kenyataan: Sastra perjalanan
Dari masa VOC jejak yang paling banyak ditemukan tertuang dalam ‘sastra perjalanan’13 tidak dapat dilepaskan dari kebijakan yang digariskan VOC yang mewajibkan para perwira dan bawahannya dalam skala kepangkatan tertentu untuk membuat laporan. Laporan semacam itu biasanya disebut dengan scheepsjournaal, berisi catatan terinci mengenai semua hal yang ditemui selama pelayaran, hari demi hari para awak kapal-kapten, juru mudi, pedagang, paramedis dan masih banyak fungsi lainnya mencatat dengan teliti misalnya arah datangnya angin selama pelayaran, badai, jenis kapal-kapal yang berpapasan dalam perjalanan, jumlah awak kapal yang sakit dan meninggal, mengenai kericuhan antar kelasi, pelanggaran dan sanksi yang dijatuhkan dan sebagainya. Tentu saja laporan yang ibuat itu untuk kepentingan VOC semata dan tidak dimaksudkan untuk konsumsi publik. 14
|
Karya Rijklof van Goens, Javaense Reyse (1666) juga menarik untuk dicantumkan. Benteng-benteng VOC di masa itu biasanya dibangun dekat pesisir. Hampir-hampir tidak ada catatan yang menuturkan ke daerah pedalaman, yang jauh dari benteng VOC. Goens menuangkan pengalaman perjalanannya dari
Selain keindahan alam, karya Goes mengungkap hal-hal yang menak-jubkan dari balik kraton Mataram. Raja digambarkan sebagi pribadi hanya yang tiga kali dalam seminggu muncul di depan umum. Keberadaannya tidak lepas dari sejumlah besar wanita: beliau memiliki empat istri resmi dan skitar 50 selir. Keselatamannya dijaga antara lain oleh satu kelompok punggawa yang terdiri dari 50 perawan, dan ditunjang oleh 3000 wanita separuh baya yang bertugas penjaga. Raja dan para selir dilayani oleh 6000 pembantu wanita. 17.
Prosa-prosa lainnya.
Karya Nicolaas de Graaff, Oost-Indise spiegel (1701) yang diterbitkan setelah kematiannya, menyoroti kehidupan orang Eropa dan Indo Eropa yang tinggal di Hindia Belanda, khususnya di
Mencolok untuk dicatat bahwa De Graaff melekatkan karakter negatif kepada semua wanita, apapun warna kulitnya.
De Graaff juga memberikan penggambaran negatif kepada para pria pegawai VOC, De Graaf menyebut para hamba VOC ini sebagai koruptor. Barangkali citra buruk pegawai VOC ini sedikit banyak terkait dengan motivasi orang-orang pergi ke Timur hanya sebagian kecil saja yang punya keterkaitan untuk negara dan bangsa asing sebagian besar hanya memikirkan uang. Pengungkapan praktik KKN dan koneksi yang terjadi di jaman VOC, dengan lugas diungkapkan De Graaff.
Meski sarat dengan elemen-elemen yang membeberkan kebobrokan kehidupan di masa VOC, tetap saja karya de Graaff untuk waktu yang lama men-jadi smber yang tiada habisnya bagi pata penulis sastra perjalanan. 18.
Karya besar lain yang layak untuk disebutkan adalah Oud en Nieuw Oost-Indien yang ditulis oleh pendeta Franqois Valentijn. Nieuwenhuys menyebutkan Valentijn menulis satu seri karya yang terdiri dari
Karya besar Valentijn tersebut sampai saat ini masih saja dirujuk, dipelajari dan dibicarakan. Karya itu sarat dengan informasi dari berbagai bidang ilmu, sejarah, flora dan fauna, perilaku dan tradisi, serta tentang penduduk pribumi. Menarik untuk dicatat bahwa pendapat Valentijn mengenai berbagai kelompokm orang Asia/pribumi didasarkan pada warna kulit. Semakin terang (=putih) warna kulit seseorang semakin tinggi nilai kecantikan yang diberikan Valentijn. Menarik, bahwa stereotip yang sampai saat ini masih hadir dalam berbagai karya dari ranah Sastra Hindia-Belanda, sudah diusik oleh Valentijn di masa VOC. Melihat gaya penceritaan Valentijn, Paasman dan Beekman memberikan apresiasi yang tinggi terhadap humor dan kecenderungan bersikap anekdotis saat menuturkan kejadian-kejadian yang dialaminya atau yang diceritakan orang kepadanya. 20
Penghargaan yang tinggi laik diberikan kepada Georg Everard Rumf atau yang lebih dikenal sebagai Rumphius, seorang hamba VOC berkebangsaan Jerman. Bertahun-tahun lamanya dia bertugas di
|
Roman dan cerita-cerita pendek
Tidak banyak karya roman dan cerita dihasilkan dari amsa VOC. Batavische arcadia (1637) karya Johan van Heemskerck, dalam salah satu bagian mengangkat unsur keberadaan kekuatan gaib di Hindia-Belanda. Dengan
Pemikiran abad Pencerahan juga menelusup Hindia-Belanda. Pada tahun 1779 novel tendensius Sophronisba of de gelukkige moeder door de inenting harer dochter terbit. Novel ini dedeikasikan kepada para ibu di Batavia, penulis-nya Willem van Hogendorp menghimbau para ibu membaca karya itu demi kesejahteraan anak-anak mereka. Novel itu bertutur kebahagiaan seorang ibu yang anaknya selamat dari epidemi cacar yang melanda
Buruknya perlakuan terhadap para budak seperti yang disampaikan De Graaff dalam Oost-Indise Spiegel, juga ditemukan dalam karya Willem van Ho-gendorp, penggagas pembentukan het Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenshappen, lembaga ilmiah ternamadi Asia Tenggara. Setahun setelah novel tendensiusnya terbit Kraspoekol, of de droevige gevolgen van eene te verre gaande strengheid, jegens de slaaven. Menurut Nieuwenhuys (1973) novel kedua ini seperti juga yang pertama jauh dari kriteria yang harus dipenuhi sebuah novel. Setelah pada novel pertama masalah vaksinasi yang diangkat, dalam novel yang kedua perbudakan disorot. Kraspoekol adalah majikan yang bertangan besi terhadap para budaknya, dalam kesehariannya dia dibantu seorang mandor berasal dari Madura. Cerita berakhir tragis, Kraspoekol dan sang mandor tewas di ujung keris salah satu budak yang memberontak.
Dirk van Hogendorp, anak Willem van Hogendrop, nantinya 20 tahun kemudian menggubah novel itu menjadi lakon drama, yang dalam kemasannya lebih jelas memperlihatkan pesan yang hendak diangkat: anti perbudakan dan traffickin, perdagangan manusia.
Lakon drama lain yang ditulis oleh Onno Zwier Haren berdasar buku-buku yang dibacanya dia sendiri tidak pernah menginjakkan kakinya di Hindia-Belanda menuturkan tentang perang Banten, Agon, sultan van Bantam, (1769). Dalam lakon itu orang
|
Kemegahan Batavia sebagai
Dalam penghargaan terhadap orang-orang yang berjasa diberikan tempat yang layak di surga untuk mereka. Buku ketiga berisi sajak-sajak yang meng-gambarkan mimpi penyair. Dalam memimpin itu penyair bertemu dengan Coen yang menceritakan asal mula
Selain lofdicht juga dikenal berbagai sajak yang mengusung nilai-nilai moral, seperti karya Matthijs Cramer D’Indiaensche “Tyfferboom (1670). Karya Cramer ini bentuknya seperti kumpulan emblemata, sajak-sajaknya diberi nomor dan dimulai dengan sebuah semboyan. Gambaran tentang Hindia-Belanda. Peri-laku negatif yang dipaparkan Cramer dengan tajam dan bernada satiris dalam sajak-sajaknya, misalnya tentang sikap sombong, suka meroddel, berjudi, mabuk-mabukan, menipu, munafik, selingkuh, merupakan motif yang sampai abad ke dua puluh masih ditemukan dalam berbagai karya dalam ranah Sastar Hindia-Belanda.
Pembunuhan orang-orang Cina di Batavia (1740) juga menjadi ilham bagi beberapa penyair. Di Negeri Belanda, Willem van Haren memprotes pembunuhan itu dalam kumpulan sajaknya Gedicht op den moord gepleegd aan de Chinezen te
Puisi di masa VOC juga erat terkait dengan ‘kesempatan khusus’. Sajak-sajak ditulis untuk kejadian-kejadian luar biasa dalam hidup seseorang; keahlian, perkawinan, kematian, promosi, pertemuan dan perpisahan.
Jacob Steendam, penyair dan pengagum VOC, mengelu-elukan keme-nangan VOC atas Makasar dalam sajak Dank-offer yang berisi pujian kepada Tu-han karena telah melepaskan Belanda dari belenggu Spanyol, menunjukkan jalan ke Hindia-Belanda dan merestui pendirian kota Batavia. Laurens van Estland, teman semasa Steendam menulsi untuk pengangkatan Cornelis Speelman sebagai Gbernur Jendral apda tahun 1681. Dia juga menulis sajak dalam rangka sebuah pameran yang mempertontonkan penggalan kepala seorang kapten
Bagi mereka yang buta huruf, atau yang tidak memiliki akses untuk membaca jurnal perjalanan, mendapatkan informasi mengenai negeri penghasil rempah-rempah, Hindia-Belanda, dari berbagai lagu yang didendangkan semasa VOC. Lagu-lagu menawarkan informasi, misalnya tentang perjalanan ke Timur, kehidupan di negeri tropis, perjalanan pulang ketanah air. Berbagai lagu diperdengarkan dalam acara yang dihadiri banyak orang, misalnya dalam pesta pernikahan, dipasar-pasar tradisional, dan di pasar malam. Biasanya lagu semacam itu tidak sulit didendangkan kerena mengikuti melodi lagu-lagu rakyat yang telah dikenal, syairnya mudah dihapal dan iramanya menarik. 25.
Lagu-lagu tersebut besar kontribusinya dalam membangun citra Hindia-Belanda yang digambarkan sebagai negeri luilekkerland tempat orang mudah me-raup kekayaan daerah kaya kandungan emas dan batu permata, rempah-rempah, makanan dan minuman yang lezat dan wanita-wanita ‘menantang’. 26 Alasan yang terakhir sangat masuk akal. Mereka yang diiming-iming dan akhirnya ikut belayar dengan kapal dagang VOC adalah pria yang kebanyakan berlatar belakang ‘hi-tam’. Setengah dari mereka berasal dari negara-negara Eropa: orang-orang dari Skandinavia, Perancis, Italia dan terutama orang Jerman. Seringkali mereka adalah kelompok orang bermasalah – miskin, pengangguran, pemabok, penjudi, tidak memiliki kemahiran berlayar dan kondisi fisiknya sering kali prima. 27
Beberapa lagu mengalami adaptasi dan masih dinyanyikan berabad-abad setelah VOC runtuh. Lagu-lagu itu diperkenalkan kepada khalayak ramai baik secara lisan maupun tertulis. Kumpulan lagu juga diterbitkan dalam bentuk buku, sebagian besar lagu tidak diketahui penciptanya. 28
Di samping lagu-lagu yang bersifat propaganda, juga dikenal lagu dengan kandungan moral dalam syairnya, yang menuturkan resiko pelayaran ke Hindia-Belanda dan betapa berbahayanya kehidupan di Apenland, negeri monyet.
Mengenai lagu dari amsa VOC ini Paasman secara panjang lebar meng-upasnya dalam Wie wil d’r naar Oost-Indie vareb? Liedjes uit de Compagniestijd (1991)
Dari ulasan di atas disimpulkan bahwa dari masa VOC keberagaman karya yang dihasilkan masih terbatas. Yang terutama banyak dihasilkan adalah sastra perjalanan, dengan tema utama mengenai bahaya pelayaran ke Hindia-Belanda dan kehidupan di negeri seberang. Jenis prosa lain bersifat ilmiah-populer, tulisan mengenai flora dan fauna, adat-istiadat dan tradisi. Dari genre puisi tidak dikenal maha karya. Apabila teks-teks lagu dapat dianggap bagian dari genre ini, maka dapat disimpulkan bahwa lagu-lagu itu yang paling berperan untuk membentuk citra negeri Hindia-Belanda.
Semua karya yang dihasilkan masih menggunakan sudut pandang Barat, dari kacamata penulis/pencerita bukan Timur. Gambaran yang dimunculkan tentang penduduk asli Hindia-Belanda masih sangat samar dan tidak lengkap: perhatian terutama diberikan untuk wanita dalam pengertian yang cenderng sempit, yaitu dalam relasinya dengan pria, budak dan pembantu. Tidak cukup banyak karya yang mengangkat keindahan alam, dan hanya ada sedikit tulisan yang mengusung tema kebudayaan.
Dengan segala keterbatasan yang dimunculkan dalam berbagai karya yang disebut di atas, menarik untuk mengamati bahwa beberapa pandang-an/tema/pendapat yang diusung dari masa VOC sudah ‘modern’ dan tidak lekang karena waktu. Perilaku yang melanggar norma kesusilaan, korupsi, kekerasan masih tetap ‘in’ sekarang ini. Kepedulian terhadap alam, kesetaraan pun seka-rang masih harus ditingkatkan. Masalah trafficking, dalam kemasan yang berbeda marak diperbincangkan.
Siapa yang akan ikut saya berlayar ke wilayah baru, Sastra kolonial di jaman VOC? Kendala dan resiko mungkin tidak sebesar masa itu, tetapi iming-iming luilekkerland tidak dapat saya janjikan.
1Disampaikan dalam Seminar ‘Sastra dan Sejarah dalam Masa VOC’. FIB-UI, Depok 14 Januari 2008
2Zonneveld (1995), Album van Insulinde, hlm. 1
3Paasman, Bert, Lof van Oost-Indien. Liedjes uit de VOC-tijd, dalam Indische Letteren, 1991m, hlm 1
4Zonneveld (1995), hlm. 1
5Zonneveld (1995), hlm.3
6Paasman (2002) “De Indisch-Nederlandse literatuur uit de VOC-tijd’ dalam D’haen Europa Buitenggats. Koloniale en Postkoloniale Lietratuur in Europese Talen, hlm.33.
7Ibid, hlm. 37
8Kata ‘Sastra’ di sini diartikan seperti yang dimaksudkan oleh Nieuwenhuys dalam Oost-Indische Spiegel. Wat Nederlandse Schrijvers en dichters over Indonesie hebben geschreven, vanaf de eerste jaren der Compagnie tot op heden. Buku Niueuwenhuys ini dianggap sebagai buku acuan utama dalam Sastra Hindia-Belanda
9Zonneveld (1995), hlm. 10
10Ibid, hlm, 3
11Boukema,H.J.”Indische-Nederland letterkunde”. Dalam Neerlandica Extra muros. Februari 1992.
12Nieuwenhuys (1973), Oos-Indische Spiegel. Wat Nederlandse. Wat Nederlandse schrijvers en dichters over Indonesie hebben geschreven, vanaf de eerste jatren der Compagnie tot op heden. Hlm. 50
13Meminjam peristilahan yang digunakan Paasman (2002) yang mengelompokkan jurnal, catatan dan cerita pernjalanan menjadi reisliteratuur
14Paasman (2002) hlm. 67
15Zonneveld (1995), hlm. 4
16Nieuwenhuys (1973), hlm.25-26
17Zonneveld (1995), hlm 6
18Paasman (2002), hlm. 74
19Nieuwenhuys (1975), hlm. 49-50
20Paasman (2002), hlm.81
21Paasman (2002), hlm 78
22Nieuwenhuys 91973),hlm. 68
23Paasman (2002), hlm. 50
24Paasman (2002), hlm 57
25Paasman (1991), hlm 150 dan Paasman (2002), hlm 62
26Paasman (1991), hlm 9
27Paasman (1991), hlm 151
28Paasman(2002), hlm 62
Baay, Reggie & Peter van Zonneveld (1988)
Indisch-Nederland Literatuur. Dertien bijdragen voor Rob Nieuwenhuys.
Beekman, E.M. (1998)
Paradijzen van weller. Koloniale literatuur uit Nederland-Indie, 1600-1950,
Boukema,H.J.(1992)
Indisch-Nederland letterkunde. Dalam Neerlandica Extra muros. Tijdschrift van de
Internationale Vereniging voor Neerlandistiek. XXX, nr. 1, Februari 1992. Lier: J.van In.
Kempen, Michiel van, Piet Verkruijsse dan Adrienne Zuiderweg (red). (2004)
Wandelaar onder de palmen. Opstellen over koloniale en postkoloniale literatuur,
opgedragen aan Bert Paasman,
Nieuwenhuys, Rob (1973),
Oost-Indische Speigel. Wat Nederlandse schrijver en dichter over Indonesie hebben
geschreven, vanaf de eerste jaren der Compagnie tot op heden. Cetakan ke-3,
Paasman, Bert (ed) (1991)
Wie wil d’r naar Oost-Indie varen? Liedjes uit de Compagniestijd.
Querido.
Paasman, Bert (1991)
Lof van Oost Indieen. Liedjes uit de VOC-tijd. Dalam: Indische Letteren.
Tijdschrift van de werkgroep Indisch-Nederlandse Latterkunde. Tahun
keenam/nr. 1/Maret 1991.
Paasman, Bert (2002)
De Indische-Nederland literatuur uit de VOC-tijd. Dalam: Theo D’haen (red). Europa
Buitengaats. Koloniale en Postkoloniale Lietraturen in europese talen.
Zonneveld, Peter van (1995)
Album van Insulinde. Beknopte geschiedenis van de Indiesch-Nederlandse literatuur.
VALENTIJN : ANTARA ETIKA DAN ESTETIKA
Oleh Prof.R.Z.Leirissa – FIB UI
Tidak mudah menulis sejarah VOC dimasa VOC. Para penguasa VOC (Heeren Seventien) melarang para pegawai atau mantan pegawainya untuk menulis apa saja yang berkenaan dengan kegiatan badan dagang itu. Larangan itu dapat dipahami karena rahasia perusahaan tidak boleh jatuh ketangan pedagang lain, dan larangan semacam itu sedikit-banyaknya masih berlaku bagi dunia usaha di masa kini.
Sekalipun ada larangan tersebut di atas, dari waktu ke waktu ada beberapa pegawai atau mantan pegawai VOC yang memberanikan diri menulis sejarah VOC. Dua diantaranya yang terkenal sekarang adalah George Everhardus Rumphius (1627-1702) dan Francois Valentijn (1666-1727). Rumphius, seorang pegawai VOC keturunan Jerman (nama aslinya adalah George Eberhard Rumphf). Dengan status sebagai tentara VOC ia tiba di
Sekalipun lebih menaruh perhatian pada tanaman dan binatang, sebagai seorang ilmuwan Rumphius juga tertarik pada manusia. Dari tangannya muncul sebuah naskah sejarah
Francois Valentijn lahir 39 tahun setelah Rumphius (1666) di Dordtrecht (Belanda). Setelah menamatkan pendidikannya dalam bidang teologi dan filsafat di
Perbedaan pokok kedua adalah bahwa dalam sekian banyak naskah itu Rumphius hanya menulis mengenai pulau
|
Sayang sekali saya tidak dapat membaca biografi Valentijn yang terakhir yang ditulis oleh R.R.F. Habiboe dengan judul Tot Verheving van Mijne Natie. Het Leven en Werk van Francois Valentijn (1666-1727) 8. Dari berbagai keterangan yang saya peroleh nampaknya Habiboe memiliki versi tersendiri mengenai karya dan[4] pribadi Valentijn.
Karya monumental dari Valentijn itu secara populer kenal dengan judul Oud en Nieuw Oost-Indien (8 jilid). Judul lengkapnya adalah Oud en Nieuw Oost-Indien, bevatende een naaukurige en uitvoerege verhandelingen van Nederlands Mogentheyd in die gewesten. En benevens een wydlustige beschrijving der Moluccos, Amboina, Banda, Timor en Solor, Java, Suatte, Choromandel, Pegu, Arracan, Bengale, Mocha Persien, Malacca, Tonkin, Cambodia, Siam, Borneo, Bali, Kaap de Goege Hoop en van Mauritius. Dordtrech-Amsterdam : J. van Braam onder
Oud en Nieuw Oost-Indien dibagi dalam 5 bagian yang diterbitkan dalam 8 jilid sebagai berikut :
Bagian I berisi siskripsi mengenai Maluku Utara serta Sulawesi Timr dan pulau-pulau disekitarnya;
Bagian II berisi wilayah Ambon dan pulau-pulau sekitarnya seperti Seram,
Bagian III berisi sejarah gereja dari wilayah-wilayah tersebut di atas, keterangan mengenai flora dan faunanya,
Bagian IV berisi keterangan mengenai pulau Jawa, riwayat hidup para Gubernur Jenderal VOC 1610 hingga 1729. Kemudian menyusul sejarah pembentukan kota Batavia, disusul dengan riwayat hidup dinasti Moghul di India, lalu Cina, Formosa “atau Tayouan”, dan diakhiri dengan kisah pelayaran bulak-balik sebanyak 4 kali Belanda - Indonesia.
|
Dari daftar pembagian isi itu dapat dipahami bahwa Valentijn tidak mengikuti suatu konsep yang jelas untuk menyusun bukunya, baik geografis maupun historis. Ketidak teraturan itu lebih jelas lagi dalam setiap bagian, umpamanya
Dari judul bukunya itu dapat disimpulkan bahwa Valentijn membagi sejarahnya dalam dua periode utama. Periode pertama adalah masa pra-VOC yang disebutnya sebagai Oud Oost-Indie dan masa VOC sebagai Nieuw Oost-Indie. Dua periode itu terpisah secara ketat dalam uraiannya dan tidak terjadi tumpang tindih. Samasekali tidak ada upaya untuk menjelaskan bagaimana atau sampai dimana VOC mempengaruhi perkembangan masyarakat lokal yang berintegrasi dengannya. Teori-teori interaksi seperti itu memang tidak lazim dalam masa VOC karena menunggu perkembangan ilmu sejarah dalam abad ke-19 dan ke-20.
Sebagai seorang pendeta dan dengan latar belakang pendidikan filsafat dan teologi, dapat dipastikan bahwa Valentijn mempunyai pengetahuan dasar mengenai sejarah. Namun apakah ia memiliki pengetahuan mengenai bagaimana menulis sejarah? Bagaimana orang Barat pada masa Valentijn menulis sejarah? Terobosan yang dipelopori oleh Leopold von Ranke (1795-1886) dalam bukunya yang diterbitkan tahun 1824 11 merupakan kritikan yang tajam mengenai cara penulisan sejarah di masa itu 12. Ranke menganjurkan para penulis sejarah untuk tidak hanya mengutip-kutip ulang buku-buku yang telah ditulis sebelumnya tetapi langsung menggunakan dokumen-dokumen otentik dengan cara yang kritis. Sebab itu dapat dipastikan bahwa penggunaan dokumen-dokumen otentik belum menjadi keharusan di masa itu.. Metode itulah yang umumnya digunakan oleh Valentijn.
Kritikan yang dilontarkan oleh para sejarawan pada buku Valentijn tersebut adalah bahwa ia tidak jujur mengemukakan dari siapa atau dari buku siapa ia memperoleh keterangan untuk bukunya itu. sebab itu ia dicap sebagai seorang yang tidak etis dan disebut sebagai plagiator.
Bagaimana sesungguhnya Valentijn bekerja? Ternyata dalam bukunya itu disana sini ia menyebut bahwa ia menggunakan tulisan atau keterangan dari orang-orang tertentu. Secara khusus ia menyebut nama Rumphius yang dikenalnya di
Tetapi mengenai Maluku,
Selain itu di Maluku Valentijn sempat juga mempelajari bahasa Melayu dari Rumphius, sekalipun hanya sekitar 3 bulan. Namun nampaknya istrinya, Cornelia Snaats sangat mahir dalam bahasa Melayu itu, dan merupakan bantuan yang menentukan bagi Valentijn dalam menyusun khotbahnya dalam bahasa Melayu. Valentijn nampaknya juga menggunakan jamus bahasa Melayu yang disusun oleh Rumphius yang naskahnya hingga kini belum ditemukan kembali14.
|
Menurut Beekman informasi mengenai
Pekerjaan rumah bagi para ahli historiografi adalah menjawab pertanyaan bagaimana Valentijn memperoleh sumber sejarah untuk menulis mengenai
|
Namun sekalipun dari segi sejarah karya valentijn itu dikatakan tidak etis, dari segi sastra ada nilai estetikanya. Menurut Beekman, tidak kurang dari seorang Edward du Perron, kritikus sastra modern itu, yang menilai bahwa Valetijn dapat dikategorikan sebagai “a remarkably fine storyteller in proses” 16.
Buku Valentijn itu juga merupakan sumber inspirasi bagi Maria Dermount (1888-1962). Novelis Belanda itu banyak menggunakan keterangan dari buku Valentijn itu untuk menulis novel-novelnya yang mengandung cerita-cerita yang berlangsung di Ambon dan sekitarnya, seperti de Tien Duizend Dingen, atau cerpen-cerpen yang dikumpulkan dalam antologinya yang berjudul Verzamelde Werken seperti “Koning Baboe en de veertig jongelingen”, “De boom des levens” dan “De guede slang”.
Mengenai pengalamannya membaca buku Valentijn itu novelis Belanda itu menulis (terjemahan dari penulis): “Saya sering membaca buku itu, terutama bagian-bagian mengenai “Diskripsi tentang Maluku” dan “Masalah-masalah Maluku” tetapi kemudian menyingkirkannya karena saya terganggu oleh begitu banyak kesombongan, kemunafikan, bajakan dari Rumphius.
| ||||
[3] Bijdragen Koninklijk Instituut voor Taal-lan en Volkenkunde. Jilid 65 (1910)
2 Diterbitkan kembali dengan judul De Ambonse Eilanden Onder de VOC Zoals Opgetekend in De Ambonsche Landbeschrijving Utrecht: Landelijke Stuenpunt Educatie Molukkers 2002.
3E.M.Beekman, “Francois Valentijn”, dalam Beeckman (cd). Fugative Dreams An.Anthology of Dutch Colonial Literature (Singapore: Periplus paperback edition 1988), hlm. 55-95.
5Beekman, Op.cit.hlm.67.
6 Ibid..
7 Dalam abad ke-18 VOC menerbitkan terjemahan Injil dari Leydekker.
8 Franeker – Wijnene 2004.